Wabah infeksi virus Corona atau COVID-19 semakin meluas dan
telah menjangkit lebih dari 190 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia
sendiri, jumlah pasien positif COVID-19 bertambah dengan cepat. Hal tersebut tentu dapat menimbulkan
rasa takut dan panik. Apalagi anjuran untuk diam di rumah serta kebijakan
social distancing, yang kini disebut physical distancing, sedikit banyak
menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, sahabat, rekan kerja,
teman, atau umat persekutuan di tempat ibadah yang dapat saling memberi
dukungan. Bagi sebagian
orang, hal ini bisa dirasakan sebagai suatu tekanan atau beban yang sangat
besar. Bila tidak dikendalikan, tekanan tersebut akan berdampak negatif pada
kesehatan mental.
Gangguan kesehatan mental yang terjadi selama pandemi dapat
disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketakutan terhadap wabah, rasa terasing
selama menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga
atau orang yang dikasihi, kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah
lagi kebingungan akibat informasi yang simpang siur. Hal-hal tersebut tidak hanya
berdampak pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan mental, seperti
depresi atau gangguan kecemasan umum, namun juga dapat memengaruhi orang yang
sehat secara fisik dan mental.
Beberapa kelompok yang rentan mengalami stres psikologis
selama pandemi virus Corona adalah anak-anak, para remaja seperti mahasiswa,lansia, dan petugas medis. Banyak
sekali para remaja termasuk mahasiswa yang mengalami tekanan dikarenakan
peraturan pembelajaran dilakukan secara online. Hal ini banyak menyebabkan mahasiswa baru merasakan gangguan
Kesehatan mental, hal ini bisa dibuktikan dari sebuah penelitian yang dilakukan
oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), studi menyebutkan satu dari tiga
mahasiswa baru dilaporkan mengalami gejala gangguan mental. Selain itu menurut
survey yang dilakukan oleh World Health Organization atau WHO, sekitar 20
persen anak-anak dan remaja di dunia mengalami gangguan dan permasalahan
mental. Dan lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya mati karena bunuh diri.
Bunuh diri sendiri menjadi penyebab terbesar ke-2 kematian yang terjadi pada
usia 15-29 tahun. Tekanan yang berlangsung selama pandemi ini dapat menyebabkan
gangguan berupa ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri
sendiri maupun orang-orang terdekat, seperti perubahan pola tidur dan pola makan,bosan dan stres karena terus-menerus
berada di rumah, sulit berkonsentrasi, memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita
penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi.
1. Melakukan aktivitas fisik
Berbagai olahraga ringan, seperti lari kecil atau lompat di
tempat, dapat kita lakukan selama menjalani karantina di rumah. Dengan melakukan aktivitas
fisik, tubuh kita akan memproduksi hormon endorfin yang dapat meredakan stres, mengurangi
rasa khawatir, dan memperbaiki mood kita. Jangan lupa untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk
meningkatkan sistem imun.
2. Mengonsumsi makanan bergizi
Konsumsilah makanan yang mengandung protein, lemak sehat,
karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Beragam nutrisi tersebut dapat Anda
peroleh dari nasi dan cereal, buah-buahan, sayuran, makanan laut, daging,
kacang-kacangan, serta susu. Asupan nutrisi yang cukup juga dapat menjaga kesehatan mental,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. Menghentikan kebiasaan buruk
Bila Anda seorang perokok, cobalah hentikan kebiasaan buruk
tersebut mulai dari sekarang. Merokok akan meningkatkan risiko terinfeksi kuman
penyakit, termasuk virus Corona. Selain itu, batasi juga konsumsi minuman
beralkohol. Kebiasaan
merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol dapat mengganggu kesehatan fisik
maupun mental Anda. Kebiasaan buruk yang juga perlu dihentikan adalah kurang beristirahat
atau sering begadang. Jika kurang istirahat, Anda akan lebih mudah mengalami kecemasan
dan mood Anda pun akan lebih tidak stabil.
4. Membuat rutinitas sendiri
Selama menjalani karantina di rumah, Anda bisa melakukan hobi
atau aktivitas yang Anda sukai, misalnya memasak, membaca buku, atau menonton
film. Selain meningkatkan produktivitas, kegiatan tersebut juga dapat
menghilangkan rasa jenuh.
5. Menjaga komunikasi dengan keluarga
dan sahabat
Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat,
teman, dan rekan kerja, baik melalui pesan singkat, telepon, atau video call. Kita bisa menceritakan kekhawatiran dan
kecemasan yang kita rasakan. Dengan cara ini, tekanan yang kita
rasakan dapat berkurang
sehingga kita bisa lebih tenang.
Rasa takut dan cemas memang normal dirasakan selama masa
pandemi seperti ini. Namun, cobalah untuk selalu berpikir positif dan
bersyukur. Jika stres dan ketakutan yang Anda alami terasa sangat berat, jangan
ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
0 komentar:
Posting Komentar